Thursday, March 02, 2006

Mengenal kuman Pneumokokus

Mengenal kuman Pneumokokus

Radang paru-paru atau pneumonia, mungkin kita pernah mendengarnya. Salah satu penyebab tersering adalah kuman pneumokokus. Repotnya, kuman ini juga bisa menyebabkan radang otak, sakit telinga, sinusitis, hingga bronkitis yang tak sembuh-sembuh. Tidak main-main, kuman ini ada di sekitar kita dan “senang” dengan anak-anak. Siapa sebenarnya ia?

Pneumokokus dapat menginfeksi manusia dan menimbulkan gejala seperti demam, menggigil, sakit kepala, sakit telinga, batuk, sakit dada, kesadaran menurun, sesak napas, hingga leher kaku.

Tak banyak orang tahu mengapa kuman ini harus dihindari. Padahal di dunia, radang paru-paru telah membunuh sekitar 2,6 juta anak balita tiap tahunnya, dan kuman pneumokokus termasuk penyumbang terbanyak radang paru-paru terutama pada bayi-bayi kecil. Di Amerika Serikat saja yang notabene negara maju, pneumokokus menyebabkan 3000 kasus radang otak, 500.000 kasus radang paru-paru, dan 7 juta kasus infeksi telinga tiap tahunnya. Khususnya anak-anak, seringkali penyakit ini menjadi fatal.

Siapa dia?

Infeksi pneumokokus disebabkan bakteri streptococcus pneumoniae yang tinggal di saluran hidung dan tenggorokan. Itulah mengapa kuman ini menular lewat pernapasan. Saat batuk, bersin atau berbicara, kuman ini bisa berpindah pada orang lain lewat udara. Meskipun tampaknya tubuh sehat, belum tentu saluran napas bersih dari kuman pneumokokkus. Jadi, siapapun bisa menularkan kuman ini.

Sebenarnya ada sekitar 90 jenis kuman pneumokokkus, tetapi hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit gawat. Bentuk kumannya bulat-bulat dan memiliki bungkus atau kapsul. Bungkus inilah yang menentukan apakah si kuman akan berbahaya atau tidak.

Bila kuman ini terhirup, ia akan berkembang biak dalam saluran napas lalu menyebar ke rongga hidung, telinga, atau bahkan ke aliran darah. Meski begitu, tidak semua akan menjadi sakit tergantung daya tahan tubuh yang dimiliki.

Siapa yang berisiko sakit?

Anak-anak usia di bawah dua tahun dan orang tua di atas 65 tahun berisiko sakit radang paru-paru karena pneumokokus 50 kali lipat lebih tinggi. Pria agaknya lebih tinggi risikonya sekitar dua kali dibanding perempuan, mungkin karena pria lebih sering punya kebiasaan merokok dan minum alkohol.

Orang yang punya kelainan pada saluran napasnya juga membuat ia lebih mudah sakit akibat pneumokokkus. Atau, pada orang dengan daya tahan tubuh menurun akibat penyakit AIDS dan penyakit kekurangan sel darah putih.

Risiko tinggi sakit akibat pneumokokus

  • Usia kurang dari dua tahun, atau lebih dari 65 tahun
  • Jenis kelamin pria
  • Dalam perawatan atau tinggal dengan banyak orang (misalnya panti jompo, rumah sakit, panti asuhan, dan sebagainya)
  • Tinggal bersama anak di bawah usia 6 tahun yang dititipkan di tempat penitipan anak
  • Merokok
  • Minum alkohol
  • Punya penyakit jantung dan paru-paru
  • Punya penyakit hati yang sudah kronis
  • Punya penyakit saraf seperti stroke, demensia, kejang, tidak bisa batuk
  • Punya kelainan daya tahan tubuh, misalnya terinfeksi virus HIV

Kuman yang berbahaya

Selain penyakit yang disebabkannya cukup berat, kuman ini sudah banyak yang tak mempan dengan obat. Tentunya pengobatan pun menjadi sulit. Selain itu, mendeteksi kuman ini juga tak begitu mudah karena belum ada alat yang cepat dan canggih. Inilah masalah besar yang membuat pneumokokus lebih baik dihindari. Caranya? Selain langsung menghindari kumannya (yang tentu saja sulit dilakukan), meningkatkan daya tahan tubuh, vaksinasi pneumokokus saat ini juga sudah bisa dilakukan.

Referensi

Ortqvist A, Hedlund J, Kalin M. Streptococcus Pneumoniae: Epidemiology, Risk Factors, and Clinical Features. Semin Respir Crit Care Med. 2004;26(6):563-574.

Children Vaccine Program. Pneumococcus in depth. www.childrensVaccine.org

World Health Organization. Pneumococcal vaccine. April 2003

Friday, February 17, 2006

Mengeces banyak sekali?

Mengeces banyak sekali?

Dr. Luh Karunia Wahyuni SpRM

Departemen Rehabilitasi Medis FKUI

Mengiler, mengeces atau drooling pada bayi sih kelihatan lucu. Kita akan dibuat sibuk dengan celemek yang selalu basah. Lagipula, mengeces pada bayi sering disebabkan tumbuhnya gigi. Senang sekali melihat gigi bayi tumbuh. Tapi, kalau sudah berumur 2 tahun masih mengeces…wah ngga lucu lagi malah kita sering ditanya orang lain:”Kok anaknya masih mengeces?”

Produksi air ludah jumlahnya 1-1,5 liter per hari. Sebanyak 70% berasal dari kelenjar di bawah tulang rahang, dan 10% dari kelenjar ludah di bawah lidah. jumlahnya tidak dipengaruhi makanan. Sebanyak 20% diproduksi oleh kelenjar parotis. Yang 20% inilah yang produksinya dipengaruhi makanan. Air ludah melindungi gigi dan gusi dari infeksi, memcuci mulut sehingga tidak bau, serta membantu mencerna protein dan karbohidrat karena mengandung enzim amilase.

Mengeces atau tidak tergantung pematangan fungsi otot mulut. Sampai umur 18-24 bulan, fungsi gerakan otot-otot mulut masih kurang sempurna sehingga wajar saja kalau anak mengeces.

Kalau sudah berumur 2 tahun masih mengeces, apa sebabnya?

Sebagian anak yang mengalami mengeces berlebihan disebabkan gangguan motorik yang disebut sebagai cerebral palsy. Anak mengalami kelumpuhan termasuk gangguan otot mulut. Ludah jadi tidak bisa tertelan.

Apa bisa disebabkan produksi ludah terlalu banyak? Bisa juga, cuma jarang. Apakah masih ingat bahwa liur kita menjadi banyak kalau makan permen yang asam? Beberapa jenis obat juga menyebabkan produksi ludah yang banyak

Penyebab mengeces yang lain misalnya pada anak-anak yang mengalami kesulitan menelan, lidah yang besar, karies gigi, gigi tidak menutup baik, atau infeksi gusi. Hidung tersumbat dan pembesaran kelenjar adenoid disertai bernapas melalui mulut atau pilek kronik juga menyebabkan mengeces.

Mengeces juga ada komplikasinya. Kulit sekitar mulut menjadi basah, dan mudah infeksi, sering harus mengganti celemek dan baju sehingga membuat letih pengasuh, mainan dan buku jadi basah dan rusak, lalu…jadi malu membawa anak ke tempat ramai.

Apa ada pemeriksaan yang harus dilakukan?

Kalau mengeces berlebihan dan tetap mengeces setelah umur 2 tahun, harus dilakukan pemeriksaan tertentu.

  • Pemeriksaan saraf secara lengkap
  • Foto untuk melihat pembesaran adenoid
  • Foto khusus untuk mempelajari mekanisme menelan
  • Pemeriksaan dengan radioisotop untuk menilai kelenjar ludah
  • Nasofaringoskopi, dengan pipa untuk melihat langsung keadaan hidung dan adenoid.

Ada obatnya?

  • Biasanya diperlukan kombinasi beberapa spesialisasi untuk mengatasi mengeces, terdiri dari dokter THT, dokter gigi, terapi wicara dan fisioterapi.
  • Latihan otot mulut termasuk stabilisasi posisi kepala dan leher, mengurangi seringnya menjulurkan lidah, meningkatkan sensasi bahwa ada makanan di mulut, latihan menelan dan pemijatan. Latihan ini makan waktu lama, bisa minimal 6 bulan. Di rumah ibu dapat memberikan mainan yang dapat digigit untuk melatih otot mulut. Kebersihan mulut juga harus dijaga.
  • Terapi perilaku. Dapat dilatih mengenal perintah sederhana untuk menelan, pemberian reward atau hadiah bila tidak mengeces.
  • Terapi obat. Biasanya digunakan obat antikolinergik. Cuma sayangnya dosis yang dibutuhkan akan menyebabkan beberapa efek samping. Anak menjadi gelisah, mengantuk, sulit mengatur suhu tubuh, susah buang air besar, wajahnya menjadi kemerahan.
  • Terapi bedah pada kasus yang sangat sulit. Biasanya dilakukan bila anak sudah berumur lebih dari 6 tahun dan terapi biasa sudah dilakukan 6 bulan lebih tanpa hasil.

Referensi

  • Traci L Vaughn TL, Brown KR. Drooling. Emedicine, October 30, 2003.
  • Crysdale WS: Management options for the drooling patient. Ear Nose Throat J 1989: 820, 825-6, 829-30.
  • Medline Plus. Drooling. March 5, 2004.

Thursday, February 16, 2006

Wednesday, February 15, 2006

Kenali beberapa penyakit virus dengan rash

Kenali beberapa penyakit virus dengan rash

Artikel Majalah Anakku

Campak (tampek)

Andi yang berusia dua tahun demam tinggi selama 3-4 hari, matanya agak merah dan berair disertai batuk dan pilek. Lalu, muncul bintik-bintik coklat kemerahan diawali dari leher, belakang telinga, dan muka. Keesokannya, dada dan punggung Andi juga tampak kemerahan, diikuti tangan dan kaki. Tiga hari kemudian, seluruh badannya tampak penuh dengan bintik merah, sebagian bintik di daerah punggung dan dada bergabung menjadi warna kemerahan yang lebar. Demam Andi perlahan turun dan dalam seminggu, merah-merah di badan Andi memudar berganti dengan sisik berwarna kecoklatan.

Ketika Andi di bawa ke dokter dan diperiksa, tampak ada bintik putih yang dilingkari warna merah di area pipi bagian dalam. Dokter mengatakan itulah ciri khas campak, disebut bercak koplik yang hanya ditemukan pada masa awal penyakit.

Penyakit ini sangat cepat menular lewat udara dan dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi bakteri sekunder, sakit paru-paru, hingga radang otak.

Rubella

Dinda masih tampak ceria meskipun agak demam. Ibunya mulai khawatir ketika teraba benjolan di belakang telinga. Beberapa hari kemudian, muncul bintik-bintik warna merah muda, mulai muncul di leher dan muka. Keesokannya, bintik-bintik itu sudah menyebar ke seluruh tubuh. Dalam tiga hari, bintik-bintik kecil di tubuh Dinda sudah pudar dan menghilang begitu saja. Kata dokter, kemungkinan Dinda terkena rubella dan bukan campak, apalagi Dinda tidak mendapat vaksinasi MMR.

Rubella pada anak sebenarnya tidak terlalu berbahaya, kecuali bila mengenai ibu yang sedang hamil muda karena dapat menimbulkan cacat pada bayi.

Roseola infantum/eksantema subitum

Ibu Tiara khawatir sekali karena tubuh anaknya yang berusia 8 bulan itu demam tinggi mendadak. Memang Tiara agak rewel tetapi ia masih bisa diajak bermain. Tiga hari kemudian, demam turun dengan sendirinya. Setelah demamnya hilang, mulai tampak bintik-bintik merah di kulit. Awalnya, bintik-bintik muncul di dada yang menyebar ke muka dan anggota badan lalu memudar dengan urutan yang sama dengan munculnya. Memudarnya bintik terjadi cepat, hanya beberapa jam setelah muncul. Orang bilang Tiara sakit campak mini karena gejalanya amat mirip dengan campak.

Roseola infantum sering menimbulkan demam tinggi pada bayi dan membuat ibu khawatir padahal penyakit yang disebabkan herpesvirus 6 ini tergolong tidak berbahaya.

Infeksi enterovirus dan penyakit tangan, kaki, dan mulut

Dita, satu setengah tahun, dibawa ke dokter karena ia tak mau makan dan minum. Memang beberapa hari ini Dita rewel dan agak demam. Bila disuapi, Dita malah menangis. Ibunya melihat ada sariawan kecil-kecil di lidah. Demikian pula di tangan dan kakinya muncul bintil-bintil kemerahan. Dita juga tak mau berjalan karena muncul bintil berair di telapak kakinya.

Dokter mencurigainya terkena penyakit tangan, kaki, dan mulut. Penyakit ini akan sembuh sendiri tapi sering membuat ibu panik karena anaknya menolak makan dan minum.Beberapa jenis enterovirus yang bisa menimbulkan rash adalah echovirus dan virus coxsackie. Salah satu yang khas adalah penyakit tangan, kaki dan mulut seperti yang dialami Dita. Bentuk rash pada infeksi enterovirus bisa bermacam-macam, biasanya bersifat makulopapular, menyebar di seluruh badan dan tidak gatal.

Cacar air

Kiki bercerita di sekolah dasarnya ada teman yang tidak masuk karena cacar air. Beberapa hari kemudian, Kiki mulai tidak enak badan seperti mau flu. Mulailah muncul bintik-bintik yang diawali dari kemerahan (makula), menjadi bintil (papul), lalu cepat berubah menjadi bintil berair (vesikula) yang akhirnya pecah dan berkerak. Awalnya muncul di badan lalu menyebar hingga ke kulit kepala. Sampai beberapa hari, bintik-bintik tetap timbul hingga menyisakan bekas yang berkerak yang perlahan hilang. Kiki juga mengeluh gatal-gatal dan rasanya ingin menggaruk terus.

Dokter mengatakan Kiki tertular cacar air akibat virus varicella-zoster dan ibu tak perlu khawatir karena pada anak yang sehat, cacar air biasanya ringan. Yang terpenting adalah menjaga daya tahan tubuh dan kebersihan agar cacar air tidak terkena infeksi bakteri sekunder yang memperlama penyembuhan.

Referensi
  1. Tumbelaka, AR. Pendekatan diagnostik penyakit eksantema akut. Dalam: Akib AAP, Tumbelaka, AR, Matondang CS. Pendekatan imunologis berbagai penyakit Alergi dan Infeksi. Naskah lengkap Pendidikan kedokteran berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XLIV. Jakarta: 2001.
  2. Levin MJ, winberg A. Infections: Viral and Rickettsial. In: Hay WW, Hayward AR, Levin MJ, Sondheimer JM. Current Pediatric Diagnosis and treatment. 15th ed. McGraw-Hill, USA. 1999.
  3. Sharma R, Boon A, Harnden A. Interactive case report: a 2 year old child with rash and fever. BMJ 2003; 327:p668
  4. Mckinnon HD, Howard T. Evaluating Febrile patient with a rash. American Academy of Family Physicians. 2000

Demam dan trombosit turun = demam berdarah?

Demam dan trombosit turun = demam berdarah?

Dr. Alan R. Tumbelaka, SpA(K)
Divisi Infeksi dan Penyakit Tropik
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM

Artikel Majalah Anakku Januari 2006

" Dok, anak saya gak kena demam berdarah kan?" tanya Mira saat berkonsultasi dengan dokter anaknya sore itu. Anaknya sudah demam tinggi sejak kemarin malam dan Mira khawatir ini bukan demam biasa. Ibunya tadi malam sudah mewanti-wanti. "Buruan di bawa ke dokter, takut demam berdarah," temannya pun menasehatkan." Periksa saja trombositnya, jangan-jangan demam berdarah, sekarang lagi musim lho." Mira bertambah panik, apalagi setelah melihat siaran televisi bahwa banyak korban meninggal karena demam berdarah.

Mira kurang puas ketika dokter menjelaskan bahwa anaknya baru mengalami demam selama satu hari, jadi belum bisa dipastikan apakah anaknya demam berdarah atau tidak. "Dok, tidak apa-apa deh anak saya diperiksa darahnya, yang penting bisa ketahuan demam berdarah atau bukan."

Episode ini pasti sering terdengar di balik bilik konsultasi. Benarkah demam tinggi mendadak berarti demam berdarah? Mengapa ada kasus yang begitu berat hingga pasien meninggal dunia, tetapi mengapa pula ada yang ringan saja? Apakah trombosit turun sudah jaminan bahwa anak terkena demam berdarah?Demam berdarah disebabkan virus dengue sehingga disebut sebagai demam berdarah dengue (DBD). Virus dengue terdiri dari empat jenis atau strain yaitu dengue tipe 1, 2, 3, dan 4. Virus ini dapat menginfeksi manusia lewat nyamuk Aedes Aegipty atau Aedes Albopictus. Nyamuk ini kakinya belang-belang putih-hitam dan mengigitnya justru di siang hari. Tidak semua orang yang terkena virus dengue akan mengalami demam dengan gejala berat, sebagian lagi hanya sakit ringan.

Mengenal lebih dalam demam berdarah

Sudah banyak teori yang coba menjelaskan mengapa pada anak yang satu bisa mengalami demam berdarah yang berat sedangkan pada anak lain tidak. Salah satu teori mengatakan, bila kita terinfeksi virus dengue 2 kali dengan strain yang berbeda, penyakit yang muncul akan lebih parah. Teori yang lain menyebutkan si virus dengue punya "sifat ganas" yang berbeda-beda. Ini menjelaskan mengapa pada bayi yang baru terkena virus dengue satu kali saja langsung menjadi demam berdarah yang fatal.

Di Indonesia dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi, DBD sudah menjadi "langganan" setiap tahun. Angka kejadiannya paling tinggi pada musim penghujan yaitu sekitar bulan Februari, Maret, dan April. Di pedesaan, peningkatan kasus sudah mulai terjadi di bulan Desember, sedangkan untuk perkotaan, puncak terjadi pada bulan Mei-Juni.

Gejala

Bisa dimengerti mengapa Mira tidak puas mendengar jawaban dokter. Bila demam baru satu hari, demam berdarah memang sulit dibedakan dengan demam yang disebabkan penyakit lain seperti influenza, sakit tenggorokan, atau tipes karena gejalanya amat mirip.

WHO pada tahun 1997 telah membuat pedoman yang bisa membuat kita curiga adanya demam berdarah:

  1. Demam mendadak tinggi 2-7 hari
  2. Adanya gejala perdarahan, misalnya bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang meski kulit diregangkan, gusi berdarah, mimisan, dan tinja berdarah. Bintik-bintik merah di kulit bisa muncul sendiri atau dibuat muncul dengan uji bendung. Biasanya uji bendung dilakukan dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah yang digembungkan di seputar lengan hingga pembuluh darah tertekan. Bila positif, akan muncul bintik-bintik merah.
  3. Ada pembesaran hati.
  4. Terjadi syok: denyut nadi lemah dan cepat, tekanan darah turun, anak gelisah, tangan dan kaki dingin.
  5. Pemeriksaan laboratorium: trombosit turun dan terjadi kenaikan kekentalan darah. Ditandai dengan trombosit kurang dari 100.000/µl dan hematokrit meningkat 20% lebih tinggi dari normal.

Trombosit turun belum pasti demam berdarah

Pemeriksaan Trombosit dan hematokrit merupakan tes awal sederhana yang bisa membuat kita curiga adanya demam berdarah. Trombosit adalah sejenis sel darah yang diperlukan untuk pembekuan darah. Jika nilainya turun, maka tubuh menjadi mudah berdarah seperti mimisan, gusi berdarah, dan sebagainya. Jumlah trombosit yang normal adalah sekitar 150-200.000/ µl. Ingatlah bahwa trombosit yang turun bisa pula terjadi pada penyakit lain seperti campak, demam chikungunya, infeksi bakteri seperti tipes, dan lain-lain. Pada demam berdarah, trombosit baru turun setelah 2-4 hari. Bila demam baru satu hari sedangkan trombosit sudah turun, patut dicurigai apakah laboratoriumnya yang salah, orang tua salah menghitung hari demam, atau penyakit itu bukan DBD.

Hematokrit menunjukkan kadar sel darah merah dibandingkan jumlah cairan darah. Untuk anak Indonesia, nila Hematokrit yang normal adalah sekitar 37-43%. Pada DBD, hematokrit meningkat. Lha kita kan tidak tahu nilai hematokrit anak sebelum sakit? Untuk mudahnya, ambil saja patokan bahwa nilai hematokrit lebih dari 40% dianggap sebagai meningkat. Apalagi kalau lebih dari 43%. Mengapa hematokrit meningkat? Karena terjadi perembesan cairan ke luar dari pembuluh darah sehingga darah menjadi lebih kental. Hematokrit yang meningkat merupakan hal penting karena dapat membedakan DBD dengan infeksi virus yang lain.

Untuk lebih pastinya, demam berdarah memerlukan pemeriksaan yang lebih khusus seperti menemukan virus dengue, atau uji reaksi antibodi dan antigen.

Pemeriksaan darah terlalu dini tidak banyak gunanya

Pemeriksaan darah yang dilakukan terlalu dini (misalnya demam baru satu hari) belum bisa memperkirakan apakah benar anak terkena DBD, karena trombosit dan hematokrit masih normal. Bila demam telah berlangsung sekitar 3-4 hari, barulah hematokrit meningkat dan trombosit mulai menurun. Terkadang, pemeriksaan ditambah pula dengan tes Widal untuk menyingkirkan tipes (seperti yang ditawarkan berbagai paket laboratorium), padahal ini belum diperlukan sebelum 7 hari.

Masa kritis

Prinsipnya, orang tua harus benar-benar menghitung hari, sejak kapan anaknya demam. Satu hari berarti satu hari penuh atau 24 jam setelah mulainya demam. Karena dengan begitu, bisa ditentukan kapan anak masuk dalam fase kritis yang merupakan momok mengerikan pada DBD. Pada DBD, demam biasanya akan turun setelah berlangsung 3-4 hari. Namun, justru pada saat demam turun anak dapat masuk ke masa kritis, atau sebaliknya sembuh tanpa komplikasi apapun.

Orang tua justru harus waspada pada saat demamnya turun. Pada anak yang masuk masa kritis, pada saat demam turun, ujung-ujung jari teraba dingin, denyut nadi kecil dan cepat serta tekanan darah menurun dan anak tampak lemas. Semua ini terjadi akibat cairan merembes ke luar dari pembuluh darah. Anak seolah-olah kekurangan cairan darah dan sirkulasi tubuh menjadi gagal berfungsi. Akhirnya anak mengalami syok. Tandanya, kulit teraba dingin terutama ujung jari dan kaki, biru di sekitar mulut, anak gelisah sekali dan lemas, nadinya lemah dan cepat bahkan bisa tidak teraba denyutnya.

Selain syok, dapat pula terjadi perdarahan. Yang paling sering adalah perdarahan saluran cerna, ditandai dengan buang air besar berdarah, akibat trombosit yang rendah ataupun karena syok yang berkelanjutan. Kedua keadaan ini memerlukan penanganan sangat serius dan intensif karena merupakan keadaan sangat gawat.

Namun, untungnya tidak semua anak yang terkena DBD akan mengalami hal yang seram tersebut. Sebagian besar anak akan cepat kembali normal dan sembuh seperti sedia kala setelah fase kritis ini lewat.

Apakah harus dirawat?

Penyebab demam kan belum tentu DBD? Jadi anak yang baru demam biasa selama 1 hari tidak perlu dirawat di rumah sakit. Tapi ada catatannya: Orang tua harus dapat memantau perkembangan penyakit anak di rumah dan kembali kontrol ke dokter. Di rumah, anak harus dipastikan minum banyak cairan dan dipantau suhunya setiap hari. Dokter seharusnya meminta orang tua untuk datang kembali kontrol setelah demam berlangsung 3 hari, dan melakukan pemeriksaan Hemoglobin, trombosit dan hematokrit setiap hari berikutnya. Bila hasil laboratorium menunjukkan ada tanda-tanda penurunan trombosit (kurang atau sama dengan 100.000/µl) atau peningkatan hematokrit (lebih dari 40%), barulah anak harus masuk rumah sakit.

Apalagi kalau setelah 3 hari demam tidak turun juga atau muncul gejala demam berdarah seperti mimisan, gusi berdarah, muntah, lemah, anak gelisah, jangan tawar lagi. Segera masuk rumah sakit.

Kapan anakku boleh pulang dari rumah sakit?

Perawatan demam berdarah tidak memerlukan waktu yang lama. Asalkan fase kritis sudah lewat, orang tua boleh lega. Umumnya, dokter memperbolehkan pulang bila anak sudah tak demam satu hari tanpa pertolongan obat, nafsu makannya membaik, anak tampak makin sehat, hematokrit membaik, trombosit lebih dari 50.000//µl. Dan bila anak mengalami syok, dokter akan memulangkannya tiga hari setelah masa syok lewat.

MITOS DAN FAKTA DBD

· Demam plus perdarahan sama dengan DBD (salah)
Diagnosis DBD perlu memperhatikan kriteria WHO yaitu: ada demam tinggi, ada perdarahan, ada pembesaran hati, dan perembesan cairan darah.

· Bila uji bendung positif sudah pasti DBD (salah)
Uji bendung bisa juga positif pada penyakit lain, bahkan pada anak yang tidak sakit sekalipun.

· DBD merupakan penyakit yang hanya menyerang anak-anak (salah)
Semua umur (bayi hingga orang tua) dapat terkena DBD

· DBD hanya menyerang orang yang tinggal di perumahan kumuh atau sosial ekonomi rendah (salah)
Semua orang dari kalangan mana pun bisa terkena DBD

Kejang demam, bagaimana mengobatinya?

Kejang demam, bagaimana mengobatinya?

dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K)

Sekitar Kejang demam atau “stuip” dapat terjadi pada 4% di antara anak berumur antara 6 bulan sampai 4 tahun, kadang masih bisa kejang sampai 6 tahun. Diduga bahwa pada umur tersebut jaringan otak belum sempurna, sehingga mudah mengalami kejang. Kejang biasanya terjadi segera setelah demam yang naik tinggi. Kalau sudah beberapa hari demam baru terjadi kejang, mungkin ada sebab lain.

Kejangnya ada 2 macam. Yang pertama adalah kejang kaku, mata mendelik atau terbalik ke atas, lalu tangan kaki menjadi kaku. Pada jenis yang kedua, terjadi gerak kelojotan di tangan dan kaki. Biasanya kejang demam hanya berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit, lalu berhenti dan anak sadar kembali.

Pemeriksaan saraf pada anak dengan kejang demam seringkali normal saja. Keluarga dekat sering ada yang mengalami kejang demam juga.

Apakah kejang demam memerlukan CT scan atau MRI? Tidak. Kecuali bila anak menunjukkan kelainan saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan, atau kepala kecil.

Apakah kejang demam memerlukan EEG? Tidak, kecuali pada beberapa keadaan yang khusus misalnya kejang demam sangat sering.

Pemeriksaan cairan dari punggung. Kadang sulit membedakan antara kejang demam dan meningitis (radang selaput otak) pada anak berumur kurang dari 18 bulan. Pada anak-anak ini sering harus dilakukan pengambilan cairan dari punggung untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis.

Anak sudah mengalami kejang demam. Apakah ia harus makan obat terus menerus selama beberapa tahun agar tidak kejang kembali? Saat ini, makan obat terus menerus selama 1-2 tahun hanya diberikan untuk kasus-kasus:

  1. Kejang demam berlangsung lama lebih dari 15 menit.
  2. Kejang demam hanya satu sisi tubuh, misalnya hanya kejang sebelah kiri.
  3. Anak juga mengalami kelainan saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan.
  4. Indikasi yang tidak mutlak misalnya:
    1. Bila kejang demam pertama terjadi pada umur kurang dari 1 tahun.
    2. Bila kejang demam berulang, lebih dari satu kali dalam satu hari.

Kalau tidak makan obat terus menerus, bagaimana kita mencegah berulangnya kejang demam? Paling baik memang apabila anak mengalami demam, lalu diberi obat untuk mencegah berulangnya kejang demam. Sayangnya tidak ada obat yang 100% dapat mencegah kejang demam bila diberikan saat anak mulai mengalami demam. Obat yang dapat digunakan adalah diazepam, yang dimakan selama demam, diberikan 3 kali sehari. Cara ini berhasil mengurangi risiko kejang demam sebanyak 20-44%.

Cara lain adalah memberikan diazepam melalui anus, saat anak mulai demam. Dosis diazepam adalah 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan lebih dari 10 kg. Cara ini mungkin lebih efektif dibandingkan memberi diazepam yang dimakan.

Apa yang harus dilakukan bila anak ternyata kejang kembali? Jangan panik. Jangan masukkan sendok atau jari ke mulut. Jangan memberi obat melalui mulut saat anak masih kejang atau masih belum sadar. Letakkan anak dalam posisi miring, buka celananya kemudian berikan diazepam melalui anus dengan dosis yang Sama. Bila masih kejang, diazepam dapat diulang lagi setelah 5 menit, sambil membawa anak ke rumah sakit. Bila anak demam tinggi, lakukan kompres hangat, lalu berikan penurun demam bila ia sudah sadar.

Apakah anak mengalami gangguan otak atau menjadi bodoh karena mengalami kejang demam? Tidak. Otak tidak akan rusak kecuali kejang berlangsung sangat lama, lebih dari 15-30 menit.

Apakah anak akan mengalami kejang demam kembali? Kira-kira 30% anak akan mengalami kejang demam kembali, terutama setahun kemudian.

Apakah anak akan mengalami epilepsi atau kejang tanpa demam di kemudian hari? Risikonya sangat kecil, hanya sekitar 2-12%.

Apakah mungkin terjadi kematian? Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.

Referensi

American Academy of Pediatrics. Practice Parameter: Long-term Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999;103:1307-9

Moyer VA. Evidence based management of seizures associated with fever. BMJ 2001;323:1111–4

Apa yang terjadi di dalam otak anak dengan Gangguan Autistik?

Apa yang terjadi di dalam otak anak dengan
Gangguan Autistik?

Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K)
Divisi Saraf Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, Jakarta
Presentasi di Konferensi Nasional Neurodevelopmental II
Hotel Sahid, Jakarta 14-16 Februari 2006


Beberapa gejala gangguan autistik sering sudah mulai terlihat pada umur 2 tahun atau kurang, namun belum memenuhi kriteria DSM-IV. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada anak-anak ini? Salah satu usaha adalah mencari marker atau petanda biologis, misalnya dengan penelitian mengenai struktur otak.

Sudah lama diketahui bahwa otak anak dengan gangguan autistik memperlihatkan ukuran serebelum (otak kecil) yang kecil, namun dengan berat otak keseluruhan yang berlebihan. Akhir-akhir ini ditemukan fakta bahwa ukuran otak mungkin lebih kecil atau normal pada saat lahir, kemudian membesar terlalu cepat cepat pada tahun pertama, lalu mendatar dan berhenti pada umur 2-4 tahun.


Pertumbuhan otak yang terlalu cepat dan abnormal terjadi pada sel saraf integratif di korteks frontalis (otak bagian depan). Selain itu, pertumbuhan abnormal juga disebabkan oleh pematangan mielin terlalu cepat di daerah frontalis dan temporalis (daerah pelipis). Kedua keadaan ini, dikombinasi dengan perkembangan sinaps (sambungan antar sel saraf) yang tidak sempurna akan menghasilkan otak yang lebih mementingkan strategi pemrosesan informasi lokal, bukan informasi sebagai suatu kesatuan. Tidak heran bahwa anak dengan gangguan autistik sangat memperhatikan detail, bukan secara menyeluruh.


Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada daerah khusus di otak yang berperan? Gejala autisme yang paling utama adalah gangguan interaksi sosial. Beberapa struktur otak yang berhubungan dengan gangguan interaksi sosial adalah:
  1. amygdala
  2. daerah sulkus temporalis superior
  3. girus fusiformis

Gangguan amygdala menyebabkan kesulitan mengenal emosi wajah seseorang, walaupun kesanggupan mengenal wajah tetap baik.

Sulkus temporalis superior bertanggung jawab pada
gaze, atau arah lirikan mata terhadap sesuatu obyek yang bergerak. Gangguan gaze menyebabkan gangguan joint attention dan gangguan untuk mengertikan perasaan dan maksud orang lain. Selain itu, gangguan pada daerah ini menyebabkan mismatch terhadap rangsang audiovisual.

Daerah girus fusiformis bertanggung jawab terhadap fungsi pengenalan wajah yang statik. Gangguan pada daerah ini menyebabkan gangguan kontak mata dan interaksi.


Lalu apa peran pemeriksaan pencitraan? Pemeriksaan MRI, MRI fungsional dan PET scan mungkin dapat digunakan sebagai petanda biologis untuk menegakkan diagnosis gangguan autistik pada anak berumur kurang dari 2 tahun. Hasil pemeriksaan mungkin juga dapat digunakan untuk membedakan berbagai gangguan struktur otak pada anak dengan gangguan autistik untuk penatalaksanaan yang lebih terarah.


Pada anak dengan gangguan autistik juga ditemukan peningkatan kadar neurotransmiter (sejenis bahan kimia) yang bernama serotonin di dalam trombosit. Namun, di dalam otak terjadi gangguan pembentukan serotonin pada daerah-daerah tertentu. Penelitian lebih lanjut mengenai neurotransmiter sangat penting untuk pengobatan optimal pada anak dengan gangguan autistik.

Saturday, February 04, 2006

Selamat datang di blog Anakku

Klinik Anakku. Cure and Care.
Klinik Spesialis khusus anak. Saat ini terdiri dari 3 klinik dengan 26 dokter dan profesional. klinikanakku@gmail.com

  1. Klinik Anakku Kelapa Gading. Jl. Bulevar Kelapa Gading Blok LA 6 No. 34-35, Kelapa Gading Permai 14240. Telepon 4502355-4502356-70790055, Fax 4513263
  2. Klinik Anakku Cinere. Jl. Manggis Raya Blok A No. 2B-2C, Cinere, Depok 16514. Telepon 7545400, Fax 7545123
  3. Klinik Anakku Greenville. Kompleks Greenville Blok BG No. 14-15, Jakarta 11510. Telepon 5669211, Fax 5669212

Anakku Check My Child. Optimizing Child Development.
Klinik untuk anak dengan kebutuhan khusus.

  1. Jl. Tanah Mas I No. 15 Pulomas, Jakarta 13210. Telepon 47864537 Fax 4705079
  2. Ruko Taman Meruya Plaza II Blok A2, Kompleks Taman Meruya Ilir, Jakarta Barat 11620. Telepon / Fax 5861075
  3. Taman Alfa Indah Blok F1 No. 34, Joglo Jakarta Barat. Telepon 5870275

Majalah Anakku. Dari profesional yang peduli buah hati.
Majalah khusus kesehatan anak dan ibu. Setiap edisi merupakan collector's item. Jl. Tanah Mas I No. 15 Pulomas, Jakarta 13210. Telepon 4705079, 70808787, Fax 4705079. majalahanakku@gmail.com

Anakku Science and Play
Belajar sains dengan menyenangkan. Every child will love it!! anakkuscience@gmail.com

Anakku Healthy and Smart
Usaha Kesehatan Sekolah komprehensif. Murid sehat, otak cerdas.

Enjoy this site. We need your comment.

Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K)

Friday, February 03, 2006

Flek paru

Banyak sekali yang menanyakan tentang flek paru.
Flek paru adalah istilah yang rancu karena tidak jelas maksudnya. Umumnya yang dimaksud dokter dengan flek paru adalah Tuberkulosis.
Bagaimana mendiagnosis TBC pada anak?
  1. Gejala utama bukan batuk, melainkan anak sering demam dan nafsu makan berkurang, tubuhnya menjadi kurus. Di leher bagian samping sweringkali teraba kelenjar getah bening.
  2. Terhadap anak yang mengalami gejala tersebut biasanya dilakukan test Mantoux. Test ini yang paling bermakna untuk menegakkan diagnosis TBC pada anak. Test Mantoux dilakukan berupa suntikan di kulit lengan bawah. Setelah 48-72 jam dilihat bekasnya. Dinyatakan positif bila terdapat benjol merah dengan garis tengah lebih dari 10 mm atau 1 cm. Benjolan ini kemudian menghitam dan baru hilang setelah 1 minggu lebih.
  3. Apabila test Mantoux positif, berarti anak sudah berkontak dengan kuman TBC. Harus dilakukan pemeriksaan laju endap darah dan foto rontgen untuk menilai apakah TBC berada dalam keadaan aktif atau tidak. Hasil foto ini yang sering disebut sebagai flek.
  4. Bila TBC tersebut aktif, diberikan 3 macam obat.
  5. Bila TBC tidak aktif, biasanya hanya diberikan 1 macam obat.
  6. TBC tidak bia didiagnosis hanya dengan foto saja, kecuali kasus yang sangat berat.

Thursday, February 02, 2006

Skrining untuk Autisme

Pervasive Developmental Disorders Screening Test PDDST - II

Biasanya terlihat pada umur 12-18 bulan

  1. Apakah bayi anda sering terlihat bosan atau tidak berminat terhadap pembicaraan atau suatu aktivitas di sekitarnya?
  2. Apakah anak anda sering mengerjakan suatu pekerjaan atau bermain dengan suatu benda, yang dilakukannya berulang-ulang dalam waktu yang lama, sehingga anda merasa heran mengapa anak seumurnya dapat berkonsentrasi sangat baik?
  3. Apakah anda memperhatikan bahwa anak anda dapat sangat awas terhadap suara tertentu misalnya iklan di TV, tetapi seperti tidak mendengar suara lain yang sama kerasnya, bahkan tidak menoleh bila dipanggil?
  4. Apakah anda merasa bahwa perkembangan anak (selain perkembangan kemampuan berbicara) agak lambat (misalnya terlambat berjalan)?
  5. Apakah anak anda hanya bermain dengan satu atau dua mainan yang disukainya saja hampir sepanjang waktunya, atau tidak berminat terhadap mainan?
  6. Apakah anak anda sangat menyukai maraba suatu benda secara aneh, misalnya meraba-raba berbagai tekstur seperti karpet atau sutera?
  7. Apakah ada seseorang yang menyatakan kekuatiran bahwa anak anda mungkin mengalami gangguan pendengaran?
  8. Apakah anak anda senang memperhatikan dan bermain dengan jari-jarinya?
  9. Apakah anak anda belum dapat atau tidak dapat menyatakan keinginannya, baik dengan menggunakan kata-kata atau dengan menunjuk menggunakan jarinya?

Biasanya terlihat pada umur 18-24 bulan

  1. Apakah anak anda tampaknya tidak berminat untuk belajar bicara?
  2. Apakah anak anda seperti tidak mempunyai rasa takut terhadap benda atau binatang yang berbahaya?
  3. Bila anda mencoba menarik perhatiannya, apakah kadang-kadang anda merasa bahwa ia menghindari menatap mata anda?
  4. Apakah anak anda suka digelitik dan berlari bersama, tetapi tidak menyukai bermain “ciluk-ba”
  5. Apakah ia pernah mengalami saat-saat ia menjadi kurang berminat terhadap mainan?
  6. Apakah ia menghindari atau tidak menyukai boneka atau mainan berbulu?
  7. Apakah ia tidak suka bermain dengan boneka atau mainan berbulu?
  8. Apakah ia terpesona pada sesuatu yang bergerak, misalnya membuka-buka halaman buku, menuang pasir, memutar roda mobil-mobilan atau memperhatikan gerakan air?
  9. Apakah anda merasa bahwa kadang-kadang anak anda tidak peduli apakah anda berada atau tidak ada di sekitarnya?
  10. Apakah kadang-kadang suasana hatinya berubah tiba-tiba tanpa alasan yang jelas?
  11. Apakah ia mengalami kesulitan untuk bermain dengan mainan baru, walaupun setelah terbiasa ia dapat bermain dengan mainan tersebut?
  12. Apakah ia pernah berhenti menggunakan mimik yang sudah pernah dikuasainya, seperti melambaikan tangan untuk menyatakan da-dah, mencium pipi, atau menggoyangkan kepala untuk menyatakan tidak?
  13. Apakah anak anda sering melambaikan tangan ke atas dan ke bawah di samping atau di depan tubuhnya seperti melambai-lambai bila merasa senang?
  14. Apakah anak anda menangis bila anda pergi, tetapi seperti tidak peduli saat anda datang kembali?

Penafsiran

Bila ada 3 atau lebih jawaban “Ya” untuk nomor ganjil di antara semua pertanyaan tersebut, anak harus diperiksa lebih lanjut untuk menentukan apakah ia mengalami autisme.

Bila ada 3 atau lebih jawaban “Ya” untuk nomor genap di antara semua pertanyaan tersebut, anak harus diperiksa apakah ia mengalami gangguan perkembangan selain autisme.

Sumber: Siegel B. Pervasive Developmental Disorders Clinic and Laboratory, USA, 1997.

Majalah Anakku Edisi Februari 2006

Daftar Isi

  • Hal penting pada 24 hari pertama bayi anda
  • Tips merawat talipusat
  • Cara mudah enyahkan keluhan trimester pertama
  • Alergi atopi: Bila sistem kekebalan salah menafsirkan bahaya
  • Koin tertelan? Menunggu atau mengambil tindakan?
  • Si Upik datang bulan
  • Perawatan pasca persalinan
  • Tanda ASI memadai
  • Ketika Ayah menjadi "Ibu"
  • Anakku kok tidak ada bijinya?
  • Mengeces banyak sekali?
  • Mengatasi rasa takut pada anak
  • Tanya jawab seputar antibiotika
  • ASI turunkan khasiat obat?
  • Yuk perang terhadap gigi berlubang!