Thursday, March 02, 2006

Mengenal kuman Pneumokokus

Mengenal kuman Pneumokokus

Radang paru-paru atau pneumonia, mungkin kita pernah mendengarnya. Salah satu penyebab tersering adalah kuman pneumokokus. Repotnya, kuman ini juga bisa menyebabkan radang otak, sakit telinga, sinusitis, hingga bronkitis yang tak sembuh-sembuh. Tidak main-main, kuman ini ada di sekitar kita dan “senang” dengan anak-anak. Siapa sebenarnya ia?

Pneumokokus dapat menginfeksi manusia dan menimbulkan gejala seperti demam, menggigil, sakit kepala, sakit telinga, batuk, sakit dada, kesadaran menurun, sesak napas, hingga leher kaku.

Tak banyak orang tahu mengapa kuman ini harus dihindari. Padahal di dunia, radang paru-paru telah membunuh sekitar 2,6 juta anak balita tiap tahunnya, dan kuman pneumokokus termasuk penyumbang terbanyak radang paru-paru terutama pada bayi-bayi kecil. Di Amerika Serikat saja yang notabene negara maju, pneumokokus menyebabkan 3000 kasus radang otak, 500.000 kasus radang paru-paru, dan 7 juta kasus infeksi telinga tiap tahunnya. Khususnya anak-anak, seringkali penyakit ini menjadi fatal.

Siapa dia?

Infeksi pneumokokus disebabkan bakteri streptococcus pneumoniae yang tinggal di saluran hidung dan tenggorokan. Itulah mengapa kuman ini menular lewat pernapasan. Saat batuk, bersin atau berbicara, kuman ini bisa berpindah pada orang lain lewat udara. Meskipun tampaknya tubuh sehat, belum tentu saluran napas bersih dari kuman pneumokokkus. Jadi, siapapun bisa menularkan kuman ini.

Sebenarnya ada sekitar 90 jenis kuman pneumokokkus, tetapi hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit gawat. Bentuk kumannya bulat-bulat dan memiliki bungkus atau kapsul. Bungkus inilah yang menentukan apakah si kuman akan berbahaya atau tidak.

Bila kuman ini terhirup, ia akan berkembang biak dalam saluran napas lalu menyebar ke rongga hidung, telinga, atau bahkan ke aliran darah. Meski begitu, tidak semua akan menjadi sakit tergantung daya tahan tubuh yang dimiliki.

Siapa yang berisiko sakit?

Anak-anak usia di bawah dua tahun dan orang tua di atas 65 tahun berisiko sakit radang paru-paru karena pneumokokus 50 kali lipat lebih tinggi. Pria agaknya lebih tinggi risikonya sekitar dua kali dibanding perempuan, mungkin karena pria lebih sering punya kebiasaan merokok dan minum alkohol.

Orang yang punya kelainan pada saluran napasnya juga membuat ia lebih mudah sakit akibat pneumokokkus. Atau, pada orang dengan daya tahan tubuh menurun akibat penyakit AIDS dan penyakit kekurangan sel darah putih.

Risiko tinggi sakit akibat pneumokokus

  • Usia kurang dari dua tahun, atau lebih dari 65 tahun
  • Jenis kelamin pria
  • Dalam perawatan atau tinggal dengan banyak orang (misalnya panti jompo, rumah sakit, panti asuhan, dan sebagainya)
  • Tinggal bersama anak di bawah usia 6 tahun yang dititipkan di tempat penitipan anak
  • Merokok
  • Minum alkohol
  • Punya penyakit jantung dan paru-paru
  • Punya penyakit hati yang sudah kronis
  • Punya penyakit saraf seperti stroke, demensia, kejang, tidak bisa batuk
  • Punya kelainan daya tahan tubuh, misalnya terinfeksi virus HIV

Kuman yang berbahaya

Selain penyakit yang disebabkannya cukup berat, kuman ini sudah banyak yang tak mempan dengan obat. Tentunya pengobatan pun menjadi sulit. Selain itu, mendeteksi kuman ini juga tak begitu mudah karena belum ada alat yang cepat dan canggih. Inilah masalah besar yang membuat pneumokokus lebih baik dihindari. Caranya? Selain langsung menghindari kumannya (yang tentu saja sulit dilakukan), meningkatkan daya tahan tubuh, vaksinasi pneumokokus saat ini juga sudah bisa dilakukan.

Referensi

Ortqvist A, Hedlund J, Kalin M. Streptococcus Pneumoniae: Epidemiology, Risk Factors, and Clinical Features. Semin Respir Crit Care Med. 2004;26(6):563-574.

Children Vaccine Program. Pneumococcus in depth. www.childrensVaccine.org

World Health Organization. Pneumococcal vaccine. April 2003