Gangguan Autistik?
Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K)
Divisi Saraf Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, Jakarta
Presentasi di Konferensi Nasional Neurodevelopmental II
Hotel Sahid, Jakarta 14-16 Februari 2006
Beberapa gejala gangguan autistik sering sudah mulai terlihat pada umur 2 tahun atau kurang, namun belum memenuhi kriteria DSM-IV. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada anak-anak ini? Salah satu usaha adalah mencari marker atau petanda biologis, misalnya dengan penelitian mengenai struktur otak.
Sudah lama diketahui bahwa otak anak dengan gangguan autistik memperlihatkan ukuran serebelum (otak kecil) yang kecil, namun dengan berat otak keseluruhan yang berlebihan. Akhir-akhir ini ditemukan fakta bahwa ukuran otak mungkin lebih kecil atau normal pada saat lahir, kemudian membesar terlalu cepat cepat pada tahun pertama, lalu mendatar dan berhenti pada umur 2-4 tahun.
Pertumbuhan otak yang terlalu cepat dan abnormal terjadi pada sel saraf integratif di korteks frontalis (otak bagian depan). Selain itu, pertumbuhan abnormal juga disebabkan oleh pematangan mielin terlalu cepat di daerah frontalis dan temporalis (daerah pelipis). Kedua keadaan ini, dikombinasi dengan perkembangan sinaps (sambungan antar sel saraf) yang tidak sempurna akan menghasilkan otak yang lebih mementingkan strategi pemrosesan informasi lokal, bukan informasi sebagai suatu kesatuan. Tidak heran bahwa anak dengan gangguan autistik sangat memperhatikan detail, bukan secara menyeluruh.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada daerah khusus di otak yang berperan? Gejala autisme yang paling utama adalah gangguan interaksi sosial. Beberapa struktur otak yang berhubungan dengan gangguan interaksi sosial adalah:
- amygdala
- daerah sulkus temporalis superior
- girus fusiformis
Gangguan amygdala menyebabkan kesulitan mengenal emosi wajah seseorang, walaupun kesanggupan mengenal wajah tetap baik.
Sulkus temporalis superior bertanggung jawab pada gaze, atau arah lirikan mata terhadap sesuatu obyek yang bergerak. Gangguan gaze menyebabkan gangguan joint attention dan gangguan untuk mengertikan perasaan dan maksud orang lain. Selain itu, gangguan pada daerah ini menyebabkan mismatch terhadap rangsang audiovisual.
Daerah girus fusiformis bertanggung jawab terhadap fungsi pengenalan wajah yang statik. Gangguan pada daerah ini menyebabkan gangguan kontak mata dan interaksi.
Lalu apa peran pemeriksaan pencitraan? Pemeriksaan MRI, MRI fungsional dan PET scan mungkin dapat digunakan sebagai petanda biologis untuk menegakkan diagnosis gangguan autistik pada anak berumur kurang dari 2 tahun. Hasil pemeriksaan mungkin juga dapat digunakan untuk membedakan berbagai gangguan struktur otak pada anak dengan gangguan autistik untuk penatalaksanaan yang lebih terarah.
Pada anak dengan gangguan autistik juga ditemukan peningkatan kadar neurotransmiter (sejenis bahan kimia) yang bernama serotonin di dalam trombosit. Namun, di dalam otak terjadi gangguan pembentukan serotonin pada daerah-daerah tertentu. Penelitian lebih lanjut mengenai neurotransmiter sangat penting untuk pengobatan optimal pada anak dengan gangguan autistik.
No comments:
Post a Comment