Kejang demam, bagaimana mengobatinya?
dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K)
Sekitar Kejang demam atau “stuip” dapat terjadi pada 4% di antara anak berumur antara 6 bulan sampai 4 tahun, kadang masih bisa kejang sampai 6 tahun. Diduga bahwa pada umur tersebut jaringan otak belum sempurna, sehingga mudah mengalami kejang. Kejang biasanya terjadi segera setelah demam yang naik tinggi. Kalau sudah beberapa hari demam baru terjadi kejang, mungkin ada sebab lain.
Kejangnya ada 2 macam. Yang pertama adalah kejang kaku, mata mendelik atau terbalik ke atas, lalu tangan kaki menjadi kaku. Pada jenis yang kedua, terjadi gerak kelojotan di tangan dan kaki. Biasanya kejang demam hanya berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit, lalu berhenti dan anak sadar kembali.
Pemeriksaan saraf pada anak dengan kejang demam seringkali normal saja. Keluarga dekat sering ada yang mengalami kejang demam juga.
Apakah kejang demam memerlukan CT scan atau MRI? Tidak. Kecuali bila anak menunjukkan kelainan saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan, atau kepala kecil.
Apakah kejang demam memerlukan EEG? Tidak, kecuali pada beberapa keadaan yang khusus misalnya kejang demam sangat sering.
Pemeriksaan cairan dari punggung. Kadang sulit membedakan antara kejang demam dan meningitis (radang selaput otak) pada anak berumur kurang dari 18 bulan. Pada anak-anak ini sering harus dilakukan pengambilan cairan dari punggung untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis.
Anak sudah mengalami kejang demam. Apakah ia harus makan obat terus menerus selama beberapa tahun agar tidak kejang kembali? Saat ini, makan obat terus menerus selama 1-2 tahun hanya diberikan untuk kasus-kasus:
- Kejang demam berlangsung lama lebih dari 15 menit.
- Kejang demam hanya satu sisi tubuh, misalnya hanya kejang sebelah kiri.
- Anak juga mengalami kelainan saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan.
- Indikasi yang tidak mutlak misalnya:
- Bila kejang demam pertama terjadi pada umur kurang dari 1 tahun.
- Bila kejang demam berulang, lebih dari satu kali dalam satu hari.
Kalau tidak makan obat terus menerus, bagaimana kita mencegah berulangnya kejang demam? Paling baik memang apabila anak mengalami demam, lalu diberi obat untuk mencegah berulangnya kejang demam. Sayangnya tidak ada obat yang 100% dapat mencegah kejang demam bila diberikan saat anak mulai mengalami demam. Obat yang dapat digunakan adalah diazepam, yang dimakan selama demam, diberikan 3 kali sehari. Cara ini berhasil mengurangi risiko kejang demam sebanyak 20-44%.
Cara lain adalah memberikan diazepam melalui anus, saat anak mulai demam. Dosis diazepam adalah 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan lebih dari 10 kg. Cara ini mungkin lebih efektif dibandingkan memberi diazepam yang dimakan.
Apa yang harus dilakukan bila anak ternyata kejang kembali? Jangan panik. Jangan masukkan sendok atau jari ke mulut. Jangan memberi obat melalui mulut saat anak masih kejang atau masih belum sadar. Letakkan anak dalam posisi miring, buka celananya kemudian berikan diazepam melalui anus dengan dosis yang Sama. Bila masih kejang, diazepam dapat diulang lagi setelah 5 menit, sambil membawa anak ke rumah sakit. Bila anak demam tinggi, lakukan kompres hangat, lalu berikan penurun demam bila ia sudah sadar.
Apakah anak mengalami gangguan otak atau menjadi bodoh karena mengalami kejang demam? Tidak. Otak tidak akan rusak kecuali kejang berlangsung sangat lama, lebih dari 15-30 menit.
Apakah anak akan mengalami kejang demam kembali? Kira-kira 30% anak akan mengalami kejang demam kembali, terutama setahun kemudian.
Apakah anak akan mengalami epilepsi atau kejang tanpa demam di kemudian hari? Risikonya sangat kecil, hanya sekitar 2-12%.
Apakah mungkin terjadi kematian? Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Referensi
No comments:
Post a Comment